Judulnya dari fic ini adalah Another Bloody Iris. Bukan.. ini bukan karena kita kurang ide. =_=)" Ini judul terinspirasi dari Harvest Moon yang A Wonderful Life yang ada semacam sekuel-nya jadi Another A Wonderful Life. Ohoho~ Dari situlah kami angkat Bloody Iris yang punya sekuel yang judulnya Another Bloody Iris. Yang secara nggak langsung ngasih tau bahwa karakter yang dipakai di cerita itu nggak jauh beda dari yang di cerita prekuel.
Tapi genre cerita ini itu kebanting abis dari cerita prekuel-nya.. XD #lol Di cerita prekuel itu suasananya serius, tapi pas di Another kalian bakal kena culture lag ngeliat itu cerita kebanting parah. XD Di cerita sekuel ini, kita lebih condong ke Humor. #lol Selain Humor, label genre yang satu lagi adalah Angst. Nyahahaha. Mikir nggak tau? Angst sama Humor disatuin. XD *ngakak berguling*
Kita mulai Spoilernya aja deh~Another Bloody Iris
Dari tempatnya berdiri, ia hanya bisa melihat padang Iris Biru yang tak berujung. Ia terus berjalan dan terus berjalan melintasi padang tersebut, berusaha menemukan tepian Padang Iris yang membuatnya sesak karena mengingatkannya pada adiknya yang telah tiada - Iris Biru adalah bunga kesukaan Hanon.
.
"Hanon?" Kanon memanggil gadis yang mengenakan dress putih itu dengan nama adiknya. Namun gadis itu tak bergeming.
Kanon yang penasaran pun mendekati gadis itu lalu menyentuh bahu gadis itu dan membuat gadis itu menghadap ke arahnya. Mata Kanon terbelalak ketika melihat gadis itu. Gadis itu.. Hanon.. ia sedang menangis. Salah satu ekspresi yang sama sekali tak ingin ia lihat dari Hanon.
.
"Gara-gara Aniki.. gara-gara Aniki aku tak pernah bisa bersama Onii-chan! gara-gara kau selalu menghalangi aku! Kau tak mengerti betapa rindunya aku padanya! Tau kau selalu menjadi batu ganjalan bagi kami! Aku benci... Aku benci Aniki!" kata Hanon sambil mendorong Kanon hingga terjatuh. Kanon hanya tertegun mendengar perkataan orang yang dicintainya itu. Inikah yang selama ini Hanon rasakan?
.
"Kau seharusnya menyesali dosa-dosamu. Kau juga telah membunuh orang tuaku. Sudah banyak orang yang kau buat menderita. Terutama adikmu yang kau cintai. Memaksa dia bersamamu selama ini hanya membuatnya menderita. Kau tahu itu, tapi kau tak pernah mau melepaskannya." kata Iris dengan dingin.
.
"Selamat tinggal.." kata Iris dan Hanon dengan tatapan dingin.
.
Sang pemuda terbelalak. Ia berulang kali menggosok kedua matanya, meyakinkan dirinya bahwa indra pengelihatannya benar, menandakan bahwa ia tidak percaya dengan apa yang baru ia lihat. Rasanya kematian Hanon dan Iris bagaikan mimpi buruk belaka.
"Ha-Hanon? Sungguh? Kau Hanon?" kata sang Pemuda itu girang.
.
"Hanon-chan, Kanon, guten morgen!" sapa gadis itu dengan ramah.
"Iris? Kau masih hidup juga?" kata Kanon terkejut melihat kedatangan sahabat adiknya itu.
"Apa maksudmu dengan 'kau masih hidup' itu hah? Kau mau aku mati?" kata Iris menghampiri Kanon dan mencengkram kerah baju pemuda beriris coklat itu dengan kesal.
.
"..." Kanon kembali terdiam dan sadar kalau adiknya dan mantan musuhnya itu benar-benar masih hidup. Air matanya tak terasa jatuh dari kedua mata coklatnya, membuat keempat orang yang tadi sibuk dengan dunia mereka kini memperhatikan pemuda berambut coklat itu.
.
"A-Ahaha ngomong-ngomong, ada urusan apa kalian ke sini? Eyes juga, bukannya kau sedang sibuk untuk konser nanti?" sahut Kanon yang tidak mau memperpanjang masalah.
.
Dengan sigap Hizumi menggendong Kanon masuk ke dalam karung yang sudah terbuka lebar. Lalu, tanpa rasa bersalah, Eyes mengikat karung tersebut sehingga Kanon tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang ada di dalam karung hanya bisa berteriak meminta pertolongan.
"Ke-Keluarkan aku dari sini! HOI!" teriaknya dengan sangat kesal.
![]() |
| Kanone Hilbert jeneng'e~ Sono otoko wa atashi no Kang Mas~ #plak |
![]() |
| Jeneng'e Eyes Rutherford Ieu teh lain ilmuwan kimia. Sukashi~ Atashi no Husband desu yo~ #dibunuh |
Salam Random,
.Rinjani.


























